Pengantar
Pada masa sekarang ini merupakan masa produktivitas karena
banyak negara yang mencoba menciptakan berbagai produk yang diminati oleh
banyak konsumen. Salah satu contohnya adalah Jepang. Negara ini mengalami
revolusi dalam bidang mutu yang menyebabkan banyak konsumen yang lebih menyukai
produk dari Jepang dibanding dari negara asal konsumen itu sendiri. Dapat
diambil contoh seperti konsumen Amerika lebih menyukai produk Jepang, tapi
produsen Amerika tidak menyukainya. Orang Amerika telah mengekspor jutaan
kesempatan kerja dan neraca perdagangannya timpang sehingga dipaksa untuk
melawan revolusi mutu tersebut. Oleh karena itu, meningkatnya persaingan
semakin menyadarkan perusahaan akan pentingnya mutu. Arti mutu atau kualitas
yang awalnya bersifat netral perlahan-lahan bergerak kearah yang positif. Upaya
untuk meningkatkan mutu ini sudah dimulai pada dekade 1980-an, dimana banyak
perusahaan mengambil inisiatif untuk meningkatkan mutu tetapi hanya sedikit
sekali yang berhasil menjadi pemimpin di bidang mutu. Dengan demikian, persaingan
dibidang mutu meningkat dengan drastis.
Dilain pihak, perdebatan tetang mutu melibatkan permasalahan
tentang bagaimana mnedefinisikan mutu, bagaimana mengukurnya dan bagaimana
menghubungkannya dengan laba. Ada banyak sekali batasan tantang mutu, tetapi
tidak satupun yang dapat menjelaskan dengan tepat apa sebenarnya mutu itu. Dalam
arti luas, mutu adalah sesuatu yang dapat disempurnakan. Paradigma berbagai
konsumen tentang mutu itu sendiri tidaklah sama. Dalam survey yang dilakukan
ASQC (American Society for Quality Control) dan Gallup Organization terhadap
lebih dari 3000 konsumen di amerika serikat,
Jepang dan Jerman Barat dapat kita lihat berbagai pandangan mutu dari
sudut konsumen yang dapat menimbulkan perbedaan standar mutu untuk tiap negara.
Definisi mutu
Mutu memiliki beberapa pengertian yang berbeda menurut para
ahli. Phil Crosby, misalnya menyatakan
mutu berarti kesesuaian terhafap persyaratan seperti jam tahan air, sepatu
tahan lama, dokter yang ahli. Dokter yang mampu mendiagnosa dengan tepat
penyakit pasiennya digolongkan sebagai dokter yang bermutu. Sementara Edward Deming, menyatkaan mutu berarti
pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus-menerus seperti Kaizen di
Toyota. Dalam hal ini berarti mutu adalah sesuatu yang kontinyu, senantuasa
ada perbaikan, tidak stagnan. Kishikawa,
pencipta diagram tulang ikan, menyatakan mutu berarti kepuasan pelanggan, baik
pelanggan internal maupun eksternal. Kepuasan pelanggan internal akan
menyebabkan kepuasan pelanggan eksternal.
Sering timbul bahwa
“mutu” diartikan sebagai sesuatu yang :
- unggul dan bermutu
tinggi.
- mahal harganya.
- kelas, tingkat atau
bernilai tinggi.
Dugaan dan penafsiran tersebut di atas kurang tepat untuk
dijadikan dasar dalam menganalisa dan menilai mutu suatu profuk atau pelayanan.
Tidak jauh berbeda dengan kebiasaan mendefinisikan “mutu” dengan cara membandingkan satu produk dengan
produk lainnya. Misalnya, jam tangan Seiko lebih baik dari jam tangan Alba.
Kedua pengertian mutu tersebut pada dasarnya mengartikan
tingkat keseragaman yang dapat diramalkan dan diandalkan. Disesuaikan dengan kebutuhan serta dapat diterima oleh
pelanggan (customer).
Secara singkat mutu dapat diartikan: kesesuaian pengguna
atuau kesesuaian tujuan atau kepuadan pelanggan atau pemennuhan terhadap
persyaratan.
Tiga alasan memproduksi produk berkualitas
Pertama:
Konsumen yang membeli produk berdasarkan mutu, umumnya akan mempunyai loyalitas yang kuat terhadap
produk itu dibandingkan dengan konsumen yang membeli berdasarkan orientasi
harga. Normalnya, konsumen berbasis mutu akan selalu membeli produk terdebut
sampai saat produk itu membuat dia merasa tidak puas karena adanya produk lain
yang lebih bermutu. Tetapi selama produk
itu masih melakukan perbaikan mutu dia akan tetap setia dengan tetap
membelinya. Berbeda dengan konsumen berbasis harga, dia akan mencari produk
yang harganya lebih murah, apapun mereknya. Jadi, konsumen terakhir itu tidak
akan mempunyai loyalitas produk.
Kedua:
Bersifat kontradiktif dengan cara pikir bisnis tradisional,
ternyata bahwa memproduksi barang
bermutu tidak secara otomatis lebih mahal dengan memproduksi produk bermutu
rendah. Fakta menunjukkan, bahwa cara berproduksi untuk menghasilkan produk
bermutu tinggi secara simultan meningkatkan porduktivitas, antara lain mengurangi
penggunaan bahan dan mengurangi biaya.
Ketiga:
Menjual barang tidak bermutu, kemungkinan akan banyak menerima keluhan dan pengembalian barang dari
konsumen, atau biaya untuk memperbaikinya sangat besar, selain memperoleh citra
tidak baik. Belum lagi kecelakaan yang diderita konsumen akibat pemakaian
produk yang bermutu rendah. Konsumen tersebut mungkin akan menuntut ganti
rugi melalui pengadilan.
Jadi, berdasarkan ketiga hal atau alasan diatas memproduksi
produk bermutu tinggi akan lebih banyak menguntungkan bagi produsen bila
dibandingkan dengan produsen yang menghasilkan produk bermutu rendah.
Pengertian manajemen mutu
Manajemen mutu
merupakan sebuah filsafat dan budaya organisasi yang menekankan kepada upaya
menciptakan manajemen mutu yang konstan melalui setiap aspek dalam kegiatan
organisasi. Manajemen mutu membutuhkan
pemahaman mengenai sifat mutu dan sifat sistem mutu serta komitmen
manajemen untuk bekerja dalam berbagai cara. Manajemen mutu sangat
memerlukan figur pemimpin yang mampu memotivasi agar seluruh anggota dalam
organisasi dapat memberikan kontribusi semaksimal mungkin kepada organisasi.
Hal terdebut dapat dibangkitkan melalui pemahaman dan penjiwaan secara sadar
bahwa mutu suatu produk atau jasa tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan,
tetapi menjadi tanggung jawab seluruh anggota dalam organisasi.
Sejarah perkembangan manajemen mutu
Proses perkembangan menuju era mutu merupakan proses yang cukup
panjang dengan melewati berbagai pengalaman dan pendekatan metode yang
bermacam-macam. Perkembangan mutu yang terjadi tidak lepas dari awa;
perubahan era menuju era industry diman
amulai dipergunakannya mesin-mesin untuk membantu proses produksi. Secara garis besar perkembangan atau
evolusi mutu adalah
1. Era Tanpa Mutu
2. Era Inspeksi
3. Era Pengendalian Mutu
4. Era Jaminan Mutu
5. Era Manajemen Mutu Terpadu
6. Era Sistem Manajemen Mutu (ISO)
Perkembangan atau evaluasi mutu dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Era Tanpa Mutu
Merupakan era dimana
persaingan belum terjadi oleh karena produsen atau pemberi pelayanan belum
banyak, sehingga pelanggan pun belum diberi kesempatan untuk memilih. Hal
ini terjadi pula pada organisasi pemberi pelayanan publik. Pada lembaga pelayanan
publik yang dikelola oleh pemerintah, masyarakat sebagai pelanggan tidak diberikan hak untuk menuntut mutu pelayanan yang lebih
baik atau yang diharapkan. Keadaan ini menyebabkan mutu pelayanan
organisasi publik belum menjadi penilaian pengguna hanya mengutamakan yang
penting ada dan dapat dipergunakan saja.
2. Era Inspeksi
Era ini dimulai oleh
perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang, hal ini terjadi Karena mulai adanya persaingan antar produsen.
Dengan demikian tiap perusahaan mulai melakukan pengawasan terhadap produknya.
Pada era ini juga mulai dilakukan pemilahan mutu barang yang dilakukan melalui
inspeksi. Namun mutu produksi hanya pada atribut yang melekat pada produk. Oleh
karena itu, mutu hanya dipandang produk yang rusak, cacat atau hanya pada
penyimpangan dari atribut yang seharusnya melekat pada produk tersebut. Era ini
menekankan pada deteksi masalah, keseragaman produk, serta pengukuran dengan
alat ukur yang berfungsi menginspeksi perusahaan, fokus terhadap mutu belum
besar dan terbatas pada produk akhir yaitu yang cacat atau rusak dibuang,
sedangkan yang baik dilepas ke konsumen.
Era inspeksi ditandai dengan
perhatian yang rendah dari pihak manajemen terhadap mutu produk. Tamnggung
jawab terhadap mutu produk didelegasikan pada departemen inspeksi yang bertugas
hanya pada pendeteksian dan penyisihan produk yang tidak memenuhi syarat
kualitas dari produk yang baik. Pada era ini belum ada perhatian terhadap
kualitas proses dan sistem untuk merealisasikan produk tersebut.
3. Era Pengendalian Mutu
Era pengendalian mutu dimulai sekitar tahun 1930-an. Era ini
disebut juga era Stastical Quality
Contol, yang lebih menekankan pada pengendalian, keseragaman produk dan
pengurangan aktivitas inspeksi serta dilakukan Departemen Teknis dan Departemen
Inspeksi. Pada era ini pula diperkenalkan pandangan baru terhadap konsep Walter A Shewart, menurut pandangan
ini mutu produk merupakan serangkaian karakteristik yang melekat pada produk
yang dapat diukur secara kuantitatif.
Di era statistical quality control atau jaman pengendalian
mutu, manajemen telah mulai memperhatikan pentingnya pendeteksian yaitu dnegan
cara departemen inspeksi sudah mulai dilengkapi dengan alat dan metode
statistik di dalam mendeteksi penyimpangan yang terjadi dalam atribut produk yang
dihasilkan dari proses produksi. Terdapat perubahan dalam penanganan mutu
produk yaitu hasil deteksi yang secara statistical dari penyimpangan mulai
dipergunakan oleh departemen produksi untuk memperbaiki proses dan sistem
produksi.
4. Era Jaminan Mutu
Era jaminan mutu ini dimulai sekitar tahun 1960-an yang
menekankan pada koordinasi, pemecahan masalah secraa proaktif. Pada era ini mulai dikenal adanya konsep
Total Quality Control (IQC) yang diperkenalkan oleh Armand F pada tahun 1950.
Jaminan mutu merupakan sekuruh perencanaan dan kegiatan sistematik yang
diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa suatu barang
atau jasa dapat memenuhi persyaratan mutu.
Jaminan mutu merupakan bagian dari manajemen mutu yang
difokuskan pada peningkatan kemampuan untuk memenuhi persyaratan mutu. Oleh
karena itu jaminan mutu dilaksanakan secara berkesinambungan sistematis,
objektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab. Masalah mutu
pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Selanjutnya menetapkan dan
melaksanakan dengan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang
tersedia, kemudian menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut
untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan. (Azwar, 200).
Sejak era inilah
peran manajemen mulai diperhitungkan untuk terlibat dalam penentuan dan
penanganan mutu produk. Selain itu dalam era jaminan mutu ini pula mulai
diterapkan bukan hanya pada industri manufaktur, tetapi juga industri jasa.
Di Indonesia era ini berkembang ditandai dengan dibentuknya Gugus
Kendali Mutu (GKM) di masing-masing bagian atau divisi pada setiap
organisasi. Kegiatan GKM ini diprakarsai oleh Departemen Perindustrian dan
Departemen Tenaga Kerja, kemudia diikuti oleh Departemen Kesehatan dan
Departemen lainnya.
Pada era ini GKM digalakkan bukan hanya secara parsial,
tetapi lebih bersifat nasional. Hal ini terlihat dengan dilakukannya konvensi
GKM tingkat kabupaten, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Menyimak konsep
era Statistical Quality Control ini dapat diterpakan tidak hanya pada
perusahaan manufaktur, maka sejak era
ini pula lah Manajemen Mutu mulai diterapkan pada organisasi non barang atau
organisasi jasa, seperti pada rumah sehat, puskesmas, dan lain-lain.
5. Era Manajemen Mutu Terpadu
Total Quality Management (TQM) dimulai pada tahun 1980-an, era ini menekankan pada manajemen
strategic. TQM merupakan suatu sistem yang berfokus kepada orang yang
bertujuan untuk meningkatkan secara berkesinambungan kepuasan pelanggan pada
titik penekanan biaya agar sama dengan biaya yang sesungguhnya untuk
menghasilkan dan memberikan pelayanan. TQM juga sebuah upaya untuk mencapai
keunggulan kompetitif serta mengutamakan kebutuhan pasar dan konsumen yang
dilakukan oleh setiap orang dalam organisasi dengan leadership yang kuat dari pimpinan.
Management mutu
terpadu atau Total Quality Management disebut pula Continous Quality
Improvement (CQI). Total Quality yang berarti komitment dan pendekatan yang
digunakan secara terus menerus untuk meningkatkan setiap proses pada setiap
bagian organisasi.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memenuhi bahkan melampaui
harapan dan outcome dari customer. Tujuan
dari diterapkannya TQM perlu adanya perubahan budaya serta komitmen dari
seluruh jajaran mulai pimpinan puncak sampai level terbawah.
Agar TQM dapat berkelanjutan maka organisasi harus didukung
okeh budaya yang mendukung yang menekankan pada kerja kelompok, pemberdayaan
dan partisipasi karyawan, peningkatan terus menerus focus pada pelanggan serta
kepemimpinan yang tepat. Prinsip TQM secara keseluruhan proses produk maka
titik beratnya pada penanganan kualitas pada seluruh aspek organisasi.
6. Era Sistem Manajemen Mutu (ISO)
Era ini dimulai pada
sekitar tahun 1943, yaitu pada masa perang dunia II, dimana sekutu mulai
mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan peledak. Hal ini terkait dengan
mutu bahan peledak untuk keperluan militer terutama oleh pasukan inggris.
Berdasarkan keadaan tersebut pihak militer inggris
mengembangkan serangkai standar yang secara umum dapat menunjukkan kemampuan
sutau perusahaan dalam menyediakan produk bermutu tinggi serta konsisten bagi
kepentingan bahan militer. Pada alhir tahun 1960, disusun standart sistem mutu AQAP (Allied Quality Assurance Publicators)
yaitu pengembangan standar yang sudah
ada sebagai sistem kendali dengan tujuan utamanya adalah untuk mengendalikan
pemasok dalam pemenuhan persyaratan.
Pada tahun 1979 anggota
ISO untuk inggris yaitu British Standard Institute, menyerahkan proposal
kepada ISO agar dibentuk suatu komite teknis baru untuk menyiapkan standar
internasional yang berkaitan dengan teknik dan praktik penjaminan mutu, maka
dibentuklah komite teknis baru dengan nomor ISO/TC176. Sebagai hasil kerja
ISO/TC176, pada tahun 1987 dipublikasikan seri standar ISO 9000 yaitu sistem
manajemen mutu yang merangkum sebagian besar standar sebelumnya, disamping
peningkatan dan penjelasan standar baru.
ISO 9000 adalah
kumpulan standar untuk Sistem Manajemen Mutu (SMM). ISO 9000 yang
dirumuskan oleh TC 176 ISO, yaitu organisasi internasional di bidang
standarisasi. ISO 9000 pertamakali dikeluarkan pada tahun 1987 oleh International Organization for
Standardization Technical Committee (ISO/TC) 176. ISO/TC inilah yang
bertanggung jawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu. ISO/TC 176
menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa
standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi.
Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun
2000.
1.
Adanya satu set prosedur yang mencakup semua proses
penting dalam bisnis
2.
Adanya pengawasan dalam proses pembuatan untuk
memastikan bahwa sistem menghasilkan produk-produk berkualitas
3.
Tersimpannya data dan arsip penting dengan baik
4.
Adanya pemeriksaan barang-barang yang telah
diproduksi untuk mencari unit-unit yang
rusak, dengan disertai tindakan perbaikan yang benar apabila dibutuhkan
5.
Secara teratur meninjau keefektifan tiap-tiap
proses dan sistem kualitas itu sendiri
Sebuah perusahaan atau organisasi yang telah diaudit dan
disertifikasi sebagai perusahaan yang memenuhi syarat-syarat dalam ISO 9001
berhak mencantumkan label “ISO 9001 Certified” atau “ISO 9001 Registered”. Sertifikasi terhadap salah satu ISO 9000
standar tidak menjamin kualitas dari barang dan jasa yang dihasilkan.
Sertifikasi hanya menyatakan bahwa bisnis proses yang berkualitas dan konsisten
dilaksanakan di perusahaan atau organisasi tersebut. Walaupun standar-standar
ini pada mulanya untuk pabrik-pabrik, saat ini mereka telah diaplikasikan ke
berbagai perusahaan dan organisasi, termasuk perguruan tinggi dan universitas.
Tujuan ISO 9000
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2002) menyatakan bahwa
tujuan utama dari ISO 9000 adalah:
1.
Organisasi harus mencapai dan mempertahankan
kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga secara berkesinambungan
dapat memenuhi kebutuhan para pengguna (customer).
2.
Organisasi harus memberikan keyakinan kepada
pihak manajemennya sendiri bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah dicapai
dan dapat dipertahankan.
3.
Organisasi harus memberikan keyakinan kepada
pihak customer bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah atau akan dicapai
dalam produk atau jasa yang dijual.
Manfaat ISO 9000
Manfaat yang didapatkan oleh suatu organisasi atau institusi
yang telah memperoleh sertifikasi 9000 adalah diperolehnya suatu akses yang
lebih besar untuk memasuki pasar luar negeri (terutama mensyaratkan dipenuhinya
ISO 9000) dan memiliki kesesuaian (compatibility) dengan pemasok dari luar
negeri. Selain itu ada pula manfaat tambahan lainnya, proses yang dilakukan
oleh organisasi untuk mencapai sertifikasi cenderung meningkatkan kualitas dan
keragaman pekerjaan yang secara bersamaan juga meningkatkan produktivitas yang
pada gilirannya dapat meningkatkan pula daya saing organisasi.
Seri ISO 9000
Ada berbagai macam seri dari ISO 9000 yang memiliki standar,
pedoman, dan laporan yang terangkum di dalamnya. Seri ISO 9000 terdiri dari:
(Suardi, 2003, p.33-34)
-
ISO 9000:2000: Dasar dan Kosakata Sistem
Manajemen Mutu
-
ISO 9001:2000: Persyaratan Sistem Manajemen Mutu
-
ISO 9004:2000: Pedoman untuk Kinerja Peningkatan
Sistem Manajemen Mutu
-
ISO 19011
: Pedoman Audit Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan
Pengertian ISO 9001:2000
ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk
sistem manajemen kualitas. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan-persyaratan dan
rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen mutu, yang
bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk yang dapat
menjamin kepuasan pelanggan. ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, Karena
tidak menyatakan persyaratan-persyaratan
yang harus dipenuhi oleh produk. ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem
manajemen mutu (Gaspersz, 201,p.1)
Model Proses ISO 9001:2000
Model Proses ISO 9001:2000 terdiri dari lima bagian utama
yang menggambarkan sistem manajemen oganisasi, yaitu (Gaspersz, 2001, p.3):
1.
Sistem Manajemen Kualitas (Klausul 4 dari ISO
9001:2000)
2.
Tanggung Jawab Manajemen (Klausul 5 dari ISO
9001:2000)
3.
Manajemen Sumber
Daya (Klausul 6 dari ISO 9001:2000)
4.
Realisasi Produk (Klausul 7 dari ISO 9001:2000)
5.
Analisis, Pengukuran, dan Peningkatan (Klausul 8
dari ISO 9001:2000)
Prinsip-Prinsip dasar ISO 9001:2000
ISO 9001:2000 disusun berlandaskan pada delapan prinsip
dasar.
Prinsip-prinsip ini
digunakan oleh top manajemen untuk membantu meningkatkan kinerja dari sebuah
industry atau perusahaan. Berikut ini
adalah 8 prinsip dasar ISO 9001:2000 (Gaspersz, 2001,p. 75-84):
1. Fokus Pelanggan
Industri atau perusahaan sangat bergantung
pada pelanggan. Karena itu, setiap industri atau perusahaan harus memahami
kebutuhan dan keinginan pelanggan baik kebutuhan dan keinginan sekarang maupun
yang akan datang.
2. Kepimpinan
Pemimpin dari industri atau perusahaan
harus mampu menetapkan tujuan dan arah dari industri atau perusahaan. Selain
itu, pemimpin dari industri atau perusahaan harus menciptakan dan memelihara
lingkungan internal agar orang-orang dapat menjadi terlibat secara penuh dalam
mencapai tujuan-tujuan industri atau perusahaan.
3. Kerterlibatan Personel
Keterlibatan personel merupakan faktor yang
penting. Dengan melibatkan seluruh personel, manfaat yang diterima industri
atau perusahaan akan lebih besar. Manfaat-manfaat yang diperoleh apabila
industri atau perusahaan menerapkan prinsip keterlibatan personel adalah:
-
Orang-orang dalam industri atau perusahaan menjadi termotivasi,
memberikan komitmen, dan terlibat.
-
Orang-orang dalam industri atau perusahaan lebih
giat dalam melakukan inovasi agar tujuan-tujuan industri atau perusahaan
tercapai.
-
Orang-orang dalam industri atau perusahaan
menjadi bertanggung jawab terhadap kinerja mereka.
4. Pendekatan Proses
Suatu hasil yang diinginkan akan tercapai
secara lebih efisien, apabila aktivitas dan sumber-sumber daya yang berkaitan
dikelola sebagai suatu proses. Salah
satu metode yang dipakai untuk pendekatan proses adalah PDCA. PDCA secara
singkat dapat diuraikan sebagai berikut:
-
Plan:
Tetapkan tujuan dan proses yang diperlukan untuk menyerahkan hasil yang sesuai
dengan persyaratan pelanggan.
-
Do:
Implementasi proses.
-
Check:
Memantau dan mengukur proses terhadap kebijakan tujuan dan persyaratan bagi
produk dan laporkan hasilnya.
-
Action:
Lakukan tindakan perbaikan secara berkelanjutan.
5. Pendekatan Sistem Terhadap Manajemen
Pengidentifikasian, pemahaman, dan
pengelolaan, dari proses-proses yang saling berkaitan sebagai suatu sistem,
akan memberikan kontribusi pada efektivitas dan efesiensi terhadap industri
atau perusahaan dalam mencapai tujuan-tujuannya.
6. Peningkatan Terus-menerus
Peningkatan terus-menerus dari kinerja
organisasi secara keseluruhan harus menjadi tujuan tetap dari organisasi.
Peningkatan terus-menerus dilakukan
untuk meningkatkan efektivitas organisasi untuk memenuhi kebijakan dan tujuan
dari organisasi.
7. Pendekatan Faktual dalam Pembuatan
Keputusan
Keputusan yang efektif adalah berdasarkan
pada analisis data dan informasi. Analisis data dan informasi berguna untuk
menghilangkan akar penyebab masalah, sehingga masalah-masalah mutu dapat
terselesaikan secara efektif dan efisien, harus
ditujukan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan efektivitas Implementasi sistem manajemen mutu.
8. Hubungan Pemasok yang Saling Menguntungkan
Suatu industri dan pemasoknya adalah saling
tergantung dan suatu hubungan yang saling menguntungkan akan meningkatkan
kemampuan bersama dalam menciptakan nilai tambah.
Langkah-langkah
Dalam Menerapkan ISO 9001:2000
Berikut ini dapat dilihat langkah-langkah
yang diperlukan dalam menerapkan ISO 9001:2000 (Gaspersz, 2001)
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini meliputi persiapan pembentukan tim pengembangan mutu
dan pelatihan dasaar untuk memahami sistem manajemen mutu sesuai standar.
2. Tahap Pengembangan
Tahap Pengembangan ini melibatkan aktivitas industri atau perusahaan,
meninjau semua dokumentasi yang ada dan mengembangkan sistem mutu dalam organisasi.
Pelatihan yang lebih detil lagi mungkin diperlukan untuk pelatihan karyawan
dalam kunci-kunci pengembangan mutu. Jika industri atau perusahaan berskala
cukup besar, bisa dipertimbangkan untuk menggunakan konsultan eksternal untuk
membantu mempersiapkan sistem manajemen mutu.
3. Tahap Implementasi
Sistem manajemen mutu yang telah
dikembangkan perlu diimplementasikan
dalam proyek yang sebenarnya untuk selanjutnya dikaji dalam tahap selanjutnya.
4. Tahap Audit
Audit sistem manajemen mutu dilaksanakan setelah implementasi berjalan
untuk jangka waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari audit sistem manajemen
mutu adalah untuk memastikan apakah semua operasional dalam organisasi sudah
berjalan sesuai dengan prosedur.
5. Tahap Sertifikasi
Tahap
ini meliputi sertifikasi oleh Badan Sertifikasi. Setelah melalui tahap ini,
industri atau perusahaan resmi sebagai pemegang sertifikasi ISO.
.png)
No comments: