Sejarah Perkembangan Mikrobiologi (Part - 2) - SCIENCE ~

Sejarah Perkembangan Mikrobiologi (Part - 2)



8.)                Percobaan Tyndall (1820-1893).
8.1.) Bukti Adanya Mikroba dalam Udara.
                  John Tyndall seorang ahli ilmu alam bangsa Inggris yang secara tidak langsung membantu Pasteur dalam membuktikan bahwa Doktrin Generasi Spontan tidak benar.
                  Tujuan awal dari percobaannya hanya untuk mengetahui pengaruh pancaran panas terhadap udara yang digunakan dalam percobaan mikrobiologi. Tetapi, dalam percobaannya ia selalu mendapatkan kesulitan karena udara senantiasa mengandung partikel-partikel yang sangat halus, termasuk mikroba. Adanya partikel ini dapat dilihat bila seberkas cahaya dimasukkan ke dalam ruangan gelap dan kemudia dilihat dari bagian yang tegak lurus pada arah cahaya. Ternyata, bila udara dalam ruangan mengandung bagian-bagian kecil, maka akan terlihat cahaya tadi, karena partikel tersebut dapat dipantulkan cahaya. Bila udara dibiarkan cukup lama dalam ruangan tadi, maka partikel-partikel itu akan mengendap dan cahaya tidk terlihat. Keadaan semacam ini disebut “tidak optis” (Optically empty).
                  Dengan adanya kenyataan ini, Tyndall mencoba memasukkan zat organik yang telah dididihkan ke dalam ruangan yang tidak optis. Ternyata bahwa zat organik tadi tetap tidak ditumbuhi mikroba (steril) dalam waktu lama. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa udara mengandung mikroba.

Baca juga : Sejarah Perkembangan Mikrobiologi (Part - 1)

8.2.) Bukti Bahwa Spora Lebih Tahan Panas.
                  Tyndall telah mencoba memasukkan jerami kering ke dalam ruangan tidak optis. Ternyata, dalam waktu yang sangat singkat jerami tadi ditumbuhi mikroba dan kelihatannya sulit untuk disterilkan, walaupun dipanaskan sampai 30 menit. Sedangkan pada percobaan sebelumnya yang menggunakan zat organik, cukup dipanaskan 5 menit saja.
                  Untuk mensterilkan jerami tersebut perlu dilakukan pemanasan berulang kali. Dengan demikirna Tyndall mengambil kesimpulan bahwa jerami itu mengandung spora, dan ternyata spora lebih tahan terhadap pemasan dari pada mikrobanya. Karena itu harus dipanaskan berkali-kali untuk memberi kesempatan pada spora tadi untuk tumbuh menjadi mikrobanya dulu.

9.)                Penemuan Cara Pasteurisasi dan Sterilisasi.
Pasteurisasi adalah proses pemanasan suatu zat untuk mematikan beberapa mikroba. Menurut cara ini, bakteri yang tidak membahayakan kesehatan manusia mungkin masih tetap ada. Cara pasteurisasi biasanya dilakukan pada suhu 62°C selama 30 menit.
Sterilisasi adalah proses pemanasan atau proses lain yang dilakukan terhadap suatu zat untuk memusnahkan semua mikroba dan sporanya. Caranya bermacam-macam, antara lain dengan pemanasan berulang kali, dengan penyaringan, penambahan zat kimia, radiasi, dan sebagainya.

10.)                Penemuan Peranan Mikroba Pada Perubahan Zat Organik.
Bersamaan dengan masa berlangsungnya tantangan hebat terhadap Doktrin Generasi Spontan, diketahui adanya hubungan antara pertumbuhan mikroba dengan perubahan kimia pada suatu zat organik. Proses kimia tersebut adalah fermentasi dan pembusukan (putrefaction).
Fermentasi adalah proses penguraian karbohidrat menjadi alcohol atau asam organik.
Pembusukan adalah proses penguraian protein sehingga menimbulkan bau busuk.

10.1.) Fermentasi Sebagai Proses Biologis.
                  Pada tahun 1937, Cagniard-Latour, Schwann dan Kutzing secara terpisah menyatakan bahwa ragi yang ada selama proses fermentasi alkohol adalah tumbuhan mikroskopis, sedangkan perubahan dari gula menjadi etil alkohol dan karbondioksida merupakan fungsi fisiologis dari sel-sel ragi tadi.
                  Teori ini mendapat sanggahan dari Barzelius, Liebig dan Wohler yang menyatakan bahwa fermentasi adalah proses kimia biasa. Hal itu disamakan dengan pembuatan urea secara sintetis dari zat anorganik tanpa melalui prosesmikrobiologis. Tetapi sanggahan itu tidak berarti lagi setelah Pasteur mengemukakan pernyataan bahwa semua proses fermentasi adalah akibat dari kegiatan mikroba. Pernyataan ini dikemukakan setelah Pasteur mendapatkan keanehan pada fermentasi gula. Pada fermentasi ini yang diinginkan adalah jadinya alcohol. Tetapi pada waktu itu bukan alcohol yang terjadi melainkan asam laktat. Setelah diadakan penelitian ternyata bahwa di dalam campuran itu terdapat ragi jenis lain yang berbeda dengan ragi pada fermentasi alkohol.
                  Kemudian Pasteur mempelajari bermacam-macam fermentasi. Ia mendapatkan bahwa fermentasi selalu diikuti oleh kegiatan pertumbuhan mikroba, dan hasil akhirnya tergantung dari mikroba yang ada. Dengan bahan yang sama tetapi menggunakan mikroba yang berbeda akan dihasilkan zat yang berbeda (misalnya asam butirat, alkohol, asam laktat, dan sebagainya). Tiap-tiap mikroba itu dapat dibedakan dari bentuk, dan sifat-sifatnya serta masing-masing memerlukan kondisi lingkungan yang berbeda-beda.


10.2.) Kehidupan Anaerob
                  Kehidupan Anaerob adalah kehidupan yang tidak memerlukan oksigen. Jenis kehidupan ini telah diketemukan oleh Pasteur saat mengadakan fermentasi asam butirat. Pada saat melakukan fermentasi ini, Pasteur menemukan keganjilan yang berlawanan dengan keadaan pada waktu fermentasi alcohol atau asam laktat. Yaitu, pada fermentasi asam butirat sama sekali tidak memerlukan oksigen. Untuk membuktikan ini, Pasteur telah melakukan dua macam percobaan.
·         Pertama: Campuran fermentasi diambil sedikit, kemudian sebagian ditutup dan sebagian lagi terbuka. Ternyata pada tepi yang tertutup tidak terjadi fermentasi sedangkan di tengah-tengah yang tertutup fermentasi berjalan dengan baik.
·         Kedua: Campuran fermentasi secara berganti-ganti dialiri dan tidak dialiri udara. Dari percobaan ini, ternyata saat tidak dialiri udara terjadilah fermentasi dan saat dialiri udara fermentasi berhenti.

            10.3.) Kegiatan Fisiologis dari Fermentasi.
                                    Sebagian besar mikroba (termasuk ragi) dapat hidup dengan dua cara yaitu fermentasi maupun aerobic respirasi. Sebagai contohnya ragi. Bila ada oksigen ragi akan melakukan respirasi aerobic dengan memecahkan gula menjadi karbondioksida sebagai hasil utama dan sedikit alkohol. Tetapi kalau tidak ada oksigen maka ragi akan melakukan mekanisme fermentasi, dimana gula teruraikan menjadi alkohol sebagai hasil utamanya dan sedikit karbondioksida.
                                    Pada proses fermentasi, energi yang dihasilkan lebih kecil dari pada proses respirasi aerobik karena hasil akhirnya masih mengandung energi (misalnya alkohol, asam laktat, dan sebagainya). Sebagai akibat adalah pertumbuhan mikrobapun akan lebih lambat. Setelah penemuan-penemuan diatas, maka doktrin yang menyatakan bahwa fermentasi bukan proses biologis menjadi pudar.
                                    Pada tahun 1875, timbul suatu ramalan baru bahwa pada proses fermentasi ragi yang ada mengandung katalis biologis yang disebut enzim. Salah satu contohnya adalah enzim invertase yang dapat merubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Disamping itu, terdapat juga enzim lain yang berperan mengubah sukrosa menjadi alcohol dan CO2. Enzim-enzin tersebut masih dapat bekerja setelah diekstrasi dari raginya (Percobaan Buchner).
·      Pertama: Terjadinya enzim sebagai katalis pada perubahan zat organic.
·      Kedua: Adanya pertumbuhan mikroba yang mendapat energy dari perubahan zat organik tadi.
·      Ketiga: Terjadinya proses kimia untuk merubah zat organik.

11.)                PENEMUAN MIKROBA PENYEBAB PENYAKIT.
Selama mengadakan beberapa percobaan fermentasi, Pasteur ditarik oleh kejadian yang mengganggu proses pembuatan anggur dan bir. Menurut Pasteur hal itu disebabkan adanya mikroba-mikroba lain yang tidak diinginkan dan mengganggu. Pasteur menamakannya sebagai penyakit pada bir atau anggur. Kejadian ini dapat dicegah bila bahannya dipanaskan dulu (Pasteurisasi) untuk mematikan mikroba pengganggu tadi.
Dengan kejadian itu diperkirakan juga adanya mikroba yang dapat menimbulkan penyakit pada makhluk yang lebih tinggi (manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan). Sebenarnya beberapa gejala tersebut telah diketahui sebelumnya, antara lain:
a.       Pada tahun 1813 beberapa jenis cendawan menyebabkan penyakit pada tanaman gandum.
b.      Pada tahun 1836 cendawan sebagai penyebab penyakit pada ulat.
c.       Pada tahun 1945 sebagai penyebab penyakit pada tanaman kentang, bahkan diketahui juga sebagai penyebab penyakit kulit pada manusia.

11.1.) Penemuan Zat Antiseptik.
                  Pada tahun 1840 telah digunakan orang obat yang menyebabkan “kebal rasa”. Pelopornya ialah Ignar Philipp Semnelweis (1818-1865). Penemuan ini banyak menolong pada pembedahan/operasi, sehingga lamanya pembedahan tidak menjadi masalah. Tetapi, masih ada masalah lain yang kadang-kadang mengganggu bagi orang yang dibedah, yaitu terjadinya infeksi pada bekas pembedahan. Infeksi ini dapat menyebabkan kematian bagi pasien. Berdasarkan penelitian Pasteur mengenai adanya mikroba diudara, maka ahli bedah bangsa Inggris bernama Joseph Lister menyatakan bahwa infeksi pada bekas luka pembedahan disebabkan karena luka itu dihinggapi mikroba dari udara atau karena pada peralatannya telah ada mikroba. Oleh karena itu maka Lister mencoba menggunakan peralatan bedah yang steril dan menyemprot lingkungan dengan zat anti bakteri (desinfectant). Ternyata percobannya berhasil baik pada tahun 1864. Penemuan tersebut merupakan dasar yang sangat baik bagi perkembangan ilmu kedokternan (ilmu bedah), serta merupakan dukungan bahwa penyakit umumnya disebabkan oleh mikroba walaupun tidak dijelaskan macam penyakitnya.

11.2.) Bakteri “Anthrax”.
                  Penemuan bahwa bakteri dapat menyebabkan penyakit pada binatang telah dipelajari melalui bakteri Anthrax yang dapat menular kepada manusia. Penelitiannay telah dimulai sejak tahun 1850, dengan mengambil darah binatang yang menderita penyakit. Ternyata darah tersebut mengandung bakteri yang bentuknya seperti batang.
                  Setelah 15 tahun (1853-1868) mengadakan penyelidikan, Davaine dapat menunjukkan adanya bakteri tersebut pada binatang yang menderita penyakit Anthrax tetapi tidak dapat pada binatang yang sehat. Bakteri itu dapat dipindahkan kedarah binatang sehat, yang kemudian menderita penyakit yang sama.

11.3.) Percobaan Robert Koch (1843-1910).
                  Pada tahun 1876 ia melakukan penyelidikan secara teratur mengenai bakteri Anthrax. Rangkaian percobannya dilakukan dengan peralatan sederhana, sebagai berikut:
a.       Kedalam darah beberapa tikus dimasukkan sedikit darah binatang penderita Anthrax. Ternyata tikus tadi menderita penyakit yangsama. Kemudian apabila darah tikus tadi dipindahkan lagi ke tikus lainnya akan dialami hal yang sama juga.
b.      Percobaan lain dilakukan dengan memindahkan sedikit darah binatang yang menderita Anthrax ke dalam serum yang telah disterilkan. Lambat laun bakteri yang berbentuk batang berubah menjadi berbentuk pita. Bentuk tersebut diperkirakan spora. Apabila spora itu dipindahkan ke serum lain maka ia akan tumbuh menjadi berbentuk batang. Kalau hasil biakan ini disuktikkan ke binatang yang sehat, maka binatang tersebut menderita penyakit yang sama.
c.       Robert juga mencoba memasukkan bakteri bentuk lain. Ternyata bakteri itu tidak menyebabkan penyakit Anthrax. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa suatu bakteri hanya menyebabkan satu macam penyakit.

Dari rangkaian percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan yang disebut “Postulat Koch”, sebagai berikut:
1.      Pada suatu penyakit selalu didapati mikroba tertentu
2.      Mikroba tersebut dapat diisolir dari binatang yang menderita penyakit itu dan ditumbuhkan pada media buatan
3.      Media buatan dapat ditularkan ke binatang lain
4.      Satu jenis mikroba hanya menyebabkan satu macam penyakit.

11.4.) Penemuan Virus.
                  Pasteur telah mencoba memisahkan bakteri dari suatu cairan dengan cara mnyaring. Cairan yang mengandung bakteri pathogen disaring melalui penyaring. Kemudian filtratnya dicoba apakah dapat menimbulkan penyakit atau tidak. Bila ternyata tidak menyebabkan penyakit, maka ini berarti bahwa bakteri dapat disaring. Setelah dicoba ternyata memang demikian.
                  Pada 1892, seorang ahli dari Rusia mencoba menyaring ekstrak dari tanaman tembakau yang terkena penyakit mosaik, dan ternyata bahwa filtratnya tetap menyebabkan penyakit mosaik pada tembakau.
                  Dari kenyataan itu, terbukti bahwa mikroba penyebab penyakit ada yang lolos melalui saringan. Beberapa tahun kemudian ada orang lain yang juga mendapatkan hal yang sama pada penyakit binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Mikroba yang demikian itu kemudian dinamakan virus yang artinya “Tidak bersel”. Susunan dan perkembangan dari virus ini sangat berbeda dengan jasad hidup lain, maka ia tidak dapat diisolasi sebagai biakan murni. Tetapi, ia dapat ditumbuhkan pada sel-sel induknya. Beberapa virus yang jidup pada binatang dapat dibiakkan pada embryo ayam.
                  Untuk menunjukkan bahwa suatu virus adalah penyebab penyakit dapat digunakan postulat Koch, yaitu:
1.      Pada penderita penyakit selalu terdapat virus
2.      Virus dapat diisolasi dari binatang indungnya dan ditumbuhkan pada sel induk

3.      Dapat menimbulkan penyakit yang sama pada sel induknya.

No comments: